Di antara Akhlak yang harus dimiliki oleh seorang pendidik adalah sebagai berikut:
1. Lembut dan Ramah
Nabi SAW bersabda “Barang siapa yang tidak diberi kelembutan maka ia tidak diberi kebaikan”(HR. Muslim)
2. Kasih Sayang
Hilangnya kasih saying dalam mendidik akan membuat anak cendrung melawan dan tidak menyukai guru maupun orang tuanya. Bukankah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi yang kecil di antara kita,“.
3. Menahan diri dari amarah
Marah, awalnya adalah gila dan ujungnya adalah penyesalan. Tidak sedikit orang yang merasa dirinya marah karena Allah, padahal itu sekedar penuturan hawa nafsu.
4. Mudah dalam semua urusannya
Jika tidak puas dengan satu metode carilah metode yang lain, waktu yang tepat, ungkapan yang mudah, serta jangan putus asa. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, ”maukah saya beritahukan orang yang diharamkan baginya neraka?”semua orang yang qarib, hayyin, layyin, sahlin.”(HR. At-tirmidzi)
Qarib maknanya dekat dengan semua orang dan berusaha membantu keperluan orang lain. Hayyin layyin artinya lembut hatinya, sahlin artinya mudah dalam semua urusan.
5. Mumpuni ilmunya
Imam Malik pernah berkata, ”Ilmu itu tidak boleh dicari dari tempat orang: orang dugun yang keterlaluan, pengikut hawa nafsu yang mengajak orang kepadanya, orang yang sering berbohong tatkala bicara dengan manusia sekalipun ia tidak pernah berdusta atas nama Nabi, dan orang yang memiliki keutamaan dan keshalihan namun ia tidak mengerti apa yang ia ucapkan.
6. Memahami karakter anak
Inilah bagi dari suksesnya pembelajaran, karena dengan mengetahui keberadaan orang yang diajar atau didakwahi maka metodenya pun harus diselaraskan dengan keadaan sang anak dan sesuai dengan tingkat pemahamannya.
7. Memiliki semangat yang tinggi
Ibnul Qayyim mengatakan, “semangat yang tinggi ibarat orang yang terbang di atas burung. Dia tidak akan rela jatuh dan tidak akan mundur dengan adanya penghalang. Semakin tinggi semangat dan tekad seseorang maka kegagalan itu semakin tipis.
Sekian, Semoga Bermanfaat.
Senin, 09 Januari 2017
Kiat-Kiat Menahan Amarah
Marah ialah
bergejolaknya darah dalam hati untuk menolak gangguan yang dikhawatirkan
terjadi atau karena ingin balas dendam kepada orang yang menimpakan
gangguan yang terjadi padanya.
Marah ada
dua macam; ada yang terpuji dan ada yang tercela. Terpuji apabila
dilakukan karena Allah dalam membela agama Allah dengan ikhlas,
membela hak-hak-Nya, dan tidak menuruti hawa nafsu, seperti yang
dilakukan oleh Rasulullah , beliau marah karena ada hukum-hukum Allah
dan syari’at-Nya yang dilanggar, maka beliau marah. Begitu pula
marahnya Nabi Musa ‘Alaihissalam dan marahnya Nabi Yunus ‘Alaihissalam.
Adapun yang tercela apabila dilakukan karena membela diri, kepentingan
duniawi, dan melewati batas.
Ja’far bin
Muhammad Rahimahullah mengatakan, “Marah adalah pintu segala kejelekan.”
Dikatakan kepada Ibnu Mubarak Rahimahullah, “Kumpulkanlah untuk kami
akhlak yang baik dalam satu kata!” Beliau menjawab, “Meninggalkan
amarah.” Demikian juga Imam Ahmad Rahimahullah dan Ishaq Rahimahullah
menafsirkan bahwa akhlak yang baik adalah dengan meninggalkan amarah.
Marah adalah
gejolak hati yang muncul karena beberapa sebab. Apabila amarah tersebut
pada perkara dunia, hanya terbawa hawa nafsu bukan karena kebenaran,
hendaklah bagi siapa pun untuk menempuh kiat-kiat syar’i berikut ini:
1. Berdo’a
Do’a adalah
Senjata ampuh seorang Muslim. Di tangan Allah segala taufik dan
petunjuk, Dia mampu menunjuki seseorang kepada jalan yang lurus, di
tangan-Nya kebaikan dunia dan akhirat, dan Dia¬-lah penolong untuk
membersihkan jiwa dari noda-noda kotoran akhlak tercela. Bila amarah
datang berdo’alah kepada Allah . Allah berfirman:
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. …(QS. Gafir:60)
2. Dzikrullah
Ingat kepada
Allah adalah obat bagi kerasnya hati. Dzikir akan mendorong orang
(yang berdzikir) takut kepada Allah yang berakhir pada ketaatan
kepada-Nya. Maka, ingat Allah ketika marah akan mendorong pelakunya
untuk kembali pada adab dan akhlak yang mulia. Allah berfirman:
وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ
…Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa… (QS Al-Kahfi:24)
Ikrimah berkata; ” ingatlah Rabb¬-mu ketika kamu marah”.
3. Mengucapkan Ta’awudz
Mengucapkam
kalimat ta’awudz dapat menghilangkan marah; sebagaimana petunjuk
Rasulullah dalam haditsnya” Sulaiman bin Shurad radhiyallahu ‘anhu
berkata,” ada dua orang saling mencela di hadapan Nabi . Salah seorang
di antara mereka terlihat sangat marah hingga matanya memerah dan urat
lehernya menegang. Rasulullah bersabda;
”Sungguh aku
tahu sebuah ucapan yang kalau dia mau mengucapkannya akan hilang
marahnya: “A’udzubillahi minasy syaithaanir rojiim” “aku berlindung
kepada Allah dari Syaithan yang terkutuk; orang tadi malah berkata,
“Apakah engkau melihatku sedang sakit (gila)?” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Mengubah posisi
Orang yang
marah hendaknya mengubah posisi tubuhnya, jika sedang berdiri maka
hendaklah duduk. Apabila belum juga hilang marahnya, bisa berbaring atau
meninggalkan tempat; Berdasarkan hadits:
Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah bersabda,
“Apabila
salah seorang diantara kalian marah, sedangkan ia berdiri maka hendaklah
duduk. Apabila belum hilang juga marahnya maka hendaklah Ia berbaring.
(HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban)
5. Memberi Maaf
Memberi maaf
kepada orang yang bersalah ganjarannya sangat besar. Ingatlah, wahai
saudaraku!”orang kuat” bukanlah yang kuat dalam fisiknya, melainkan yang
mampu menahan jiwanya ketika marah. Rasulullah bersabda;
لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.
"Orang yang
kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah
orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah". (HR. Al-Bukhari
dan Muslim)
6. Tidak memperturutkan amarah
Dari Abu
Ablah berkata,”pada suatu hari, Umar Bin Abdul Aziz sangat marah kepada
seseorang. Maka dipanggillah orang tersebut, ia dicambuk dan diikat
dengan tali. Pada akhirnya, Umar Bin Abdul Aziz berkata,”bebaskan dia!
andaikan aku marah, aku mampu menyakitimu lagi kemudian beliau membaca
ayat”…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan)
orang…(QS. Ali Imran:14)”. Wallahu a’lam
(Disarikan Dari Majalah Al-Furqan, Edisi 12 thn ke 15)
Oleh: Arianto, S.Kom.I
Langganan:
Postingan (Atom)

