Senin, 09 Januari 2017

Tiga Amal Unggulan Yang Dicintai Allah Swt

Di antara Akhlak yang harus dimiliki oleh seorang pendidik adalah sebagai berikut:
1.    Lembut dan Ramah
Nabi SAW bersabda “Barang siapa yang tidak diberi kelembutan maka ia tidak diberi kebaikan”(HR. Muslim)
2.    Kasih Sayang
 Hilangnya kasih saying dalam mendidik akan membuat anak cendrung melawan dan tidak menyukai guru maupun orang tuanya. Bukankah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi yang kecil di antara kita,“.
3.    Menahan diri dari amarah
Marah, awalnya adalah gila dan ujungnya adalah penyesalan. Tidak sedikit orang yang merasa dirinya marah karena Allah, padahal itu sekedar penuturan hawa nafsu.
4.    Mudah dalam semua urusannya
Jika tidak puas dengan satu metode carilah metode yang lain, waktu yang tepat, ungkapan yang mudah, serta jangan putus asa. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, ”maukah saya beritahukan orang yang diharamkan baginya neraka?”semua orang yang qarib, hayyin, layyin, sahlin.”(HR. At-tirmidzi)
Qarib maknanya dekat dengan semua orang dan berusaha membantu keperluan orang lain. Hayyin layyin artinya lembut hatinya, sahlin artinya mudah dalam semua urusan.
5.    Mumpuni ilmunya
Imam Malik pernah berkata, ”Ilmu itu tidak boleh  dicari dari tempat orang: orang dugun yang keterlaluan, pengikut hawa nafsu yang mengajak orang kepadanya, orang yang sering berbohong tatkala bicara dengan manusia sekalipun ia tidak pernah berdusta atas nama Nabi, dan orang yang memiliki keutamaan dan keshalihan namun ia tidak mengerti apa yang ia ucapkan.
6.    Memahami karakter anak
Inilah bagi dari suksesnya pembelajaran, karena dengan mengetahui keberadaan orang yang diajar atau didakwahi maka metodenya pun harus diselaraskan dengan keadaan sang anak dan sesuai dengan tingkat pemahamannya.
7.    Memiliki semangat yang tinggi
Ibnul Qayyim mengatakan, “semangat yang tinggi ibarat orang yang terbang di atas burung. Dia tidak akan rela jatuh dan tidak akan mundur dengan adanya penghalang. Semakin tinggi semangat dan tekad seseorang maka kegagalan itu semakin tipis.
Sekian, Semoga Bermanfaat.

Kiat-Kiat Menahan Amarah

Marah ialah bergejolaknya darah dalam hati untuk menolak gangguan yang dikhawatirkan terjadi atau karena ingin balas dendam kepada orang yang menimpakan gangguan yang terjadi padanya. 
Marah ada dua macam; ada yang terpuji dan ada yang tercela. Terpuji apabila dilakukan karena Allah   dalam membela agama Allah   dengan ikhlas, membela hak-hak-Nya, dan tidak menuruti hawa nafsu, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah  , beliau marah karena ada hukum-hukum Allah dan syari’at-Nya yang dilanggar, maka beliau   marah. Begitu pula marahnya Nabi Musa ‘Alaihissalam dan marahnya Nabi Yunus ‘Alaihissalam. Adapun yang tercela apabila dilakukan karena membela diri, kepentingan duniawi, dan melewati batas. 
Ja’far bin Muhammad Rahimahullah mengatakan, “Marah adalah pintu segala kejelekan.” Dikatakan kepada Ibnu Mubarak Rahimahullah, “Kumpulkanlah untuk kami akhlak yang baik dalam satu kata!” Beliau menjawab, “Meninggalkan amarah.” Demikian juga Imam Ahmad Rahimahullah dan Ishaq Rahimahullah menafsirkan bahwa akhlak yang baik adalah dengan meninggalkan amarah. 

Marah adalah gejolak hati yang muncul karena beberapa sebab. Apabila amarah tersebut pada perkara dunia, hanya terbawa hawa nafsu bukan karena kebenaran, hendaklah bagi siapa pun untuk menempuh kiat-kiat syar’i berikut ini: 
1. Berdo’a
Do’a adalah Senjata ampuh seorang Muslim. Di tangan Allah   segala taufik dan petunjuk, Dia mampu menunjuki seseorang kepada jalan yang lurus, di tangan-Nya kebaikan dunia dan akhirat, dan Dia¬-lah penolong untuk membersihkan jiwa dari noda-noda kotoran akhlak tercela. Bila amarah datang berdo’alah kepada Allah   . Allah    berfirman:
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ 
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. …(QS. Gafir:60)
2. Dzikrullah
Ingat kepada Allah   adalah obat bagi kerasnya hati. Dzikir akan mendorong orang (yang berdzikir) takut kepada Allah   yang berakhir pada ketaatan kepada-Nya. Maka, ingat Allah ketika marah akan mendorong pelakunya untuk kembali pada adab dan akhlak yang mulia. Allah    berfirman:
وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ 
…Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa… (QS Al-Kahfi:24)
Ikrimah berkata; ” ingatlah Rabb¬-mu ketika kamu marah”.
3. Mengucapkan Ta’awudz
Mengucapkam kalimat ta’awudz dapat menghilangkan marah; sebagaimana petunjuk Rasulullah   dalam haditsnya” Sulaiman bin Shurad radhiyallahu ‘anhu berkata,” ada dua orang saling mencela di hadapan Nabi   . Salah seorang di antara mereka terlihat sangat marah hingga matanya memerah dan urat lehernya menegang. Rasulullah   bersabda;
”Sungguh aku tahu sebuah ucapan yang kalau dia mau mengucapkannya akan hilang marahnya: “A’udzubillahi minasy syaithaanir rojiim” “aku berlindung kepada Allah dari Syaithan yang terkutuk; orang tadi malah berkata, “Apakah engkau melihatku sedang sakit (gila)?” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Mengubah posisi
Orang yang marah hendaknya mengubah posisi tubuhnya, jika sedang berdiri maka hendaklah duduk. Apabila belum juga hilang marahnya, bisa berbaring atau meninggalkan tempat; Berdasarkan hadits: 
Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah   bersabda,
 “Apabila salah seorang diantara kalian marah, sedangkan ia berdiri maka hendaklah duduk. Apabila belum hilang juga marahnya maka hendaklah Ia berbaring. (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban)
5. Memberi Maaf
Memberi maaf kepada orang yang bersalah ganjarannya sangat besar. Ingatlah, wahai saudaraku!”orang kuat” bukanlah yang kuat dalam fisiknya, melainkan yang mampu menahan jiwanya ketika marah. Rasulullah   bersabda;

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.  
"Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah".  (HR. Al-Bukhari dan Muslim) 
6. Tidak memperturutkan amarah
Dari Abu Ablah berkata,”pada suatu hari, Umar Bin Abdul Aziz sangat marah kepada seseorang. Maka dipanggillah orang tersebut, ia dicambuk dan diikat dengan tali. Pada akhirnya, Umar Bin Abdul Aziz berkata,”bebaskan dia! andaikan aku marah, aku mampu menyakitimu lagi kemudian beliau membaca ayat”…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang…(QS. Ali Imran:14)”. Wallahu a’lam 
(Disarikan Dari Majalah Al-Furqan, Edisi 12 thn ke 15)                                      
Oleh: Arianto, S.Kom.I